Senin, 28 Juli 2014

LEBARAN TIBA





Kututup lembaran kitab bijaksana itu..



Dikisahkan dalam kitab itu

Tempo dua tahun sebuah kota dimenangkan

Bukan dengan perang

Bukan pula untuk berdirinya menara peringatan atas jasanya



Tekadnya hanya satu

Umat Tuhan kembali kepada Tuhanku



Setelah kota itu dimenangkan untuk Tuhannya

Dia pun pergi melanjutkan misinya

Tanpa peduli apakah dirinya akan dikenang atau justru dilupakan



Tercenung aku

Berapa lama aku sudah di sini?

Lebih dari seperempat abad



Adakah adanya aku di sini, membawa umat kembali kepada Penciptanya?

Sujud bersimpuh tunduk dan merasa sangat bodoh aku

“Aku bodoh dan tidak mengerti,

Seperti hewan aku di dekat-MU.”



Suara bedug terdengar bertalu-talu

Lebaran tiba..



Bergegas ku langkahkan kaki

Ku ketuk pintu satu ke satu pintu lainnya

Ku julurkan sepuluh jariku

Mohon maaf lahir batin, tetangga-tetanggaku



“Mari nak, kita makan ketupat lebaran.”

“Terima kasih Pak, engkau terima aku yang tak sama denganmu,”
Tatapan mata dan senyumpun bersilatuhrahmi



Semoga tahun depan hari raya masih tiba

Dan, kala itu lidah kita semua mengaku

Semua lutut kita bersujud

Menyembah ALLAH Pencipta Langit dan Bumi
Permulaan akan hikmat takut akan Tuhan






Sitta Manurung

Sabtu, 28 Juni 2014

Halalkah Yang Kita Makan?





Mari mulai revolusi mental dengan bertanya, halalkah uang yang akan kita gunakan untuk belanja segalam macam pangan di Ramadhan ini?


Sabtu, 28 Juli pagi tadi, ada yang menarik di layar kaca Metro TV, menyoal revolusi mental yang diluncurkan oleh Joko Widodo, calon presiden kita. Banyak gagasan dan kupasan yang digulirkan oleh kedua tamu yang diundang Metro TV soal itu. Dan, saya tercenung dan ikut membenarkan apa yang dilontarkan oleh Prof. Rhenald Kasali. Menurut Prof Renald Kasali, salah satu nilai yang perlu direvolusi dari orang Indonesia adalah materialisme. Isme soal materi.

Pikir saya, pantas saja barang buatan luar negeri laku sangat di negeriku, padahal yang menyelamatkan negeriku dari krisis ekonomi global ya UKM alias produk buatan dalam negeri. Kasihan jiwa- jiwa di negeri ku kalau dengan menggunakan produk merek luar terkenal menjadi merasa lebih percaya diri. Kepercayaan diri orang di negeri ku banyak dibangun di dalam dan melalui benda bermerek mahal itu. Materi sungguh sudah menjadi isme di negeri ku rupanya.

Prof. Renald juga ungkap kebenaran lain, yang tak lepas dari isme materi. Kali ini soal makanan halal. Negeriku memang teliti nian soal makanan halal. Agar tak terjerumus ke kubangan haram, ditunjuklah  satu institusi yang mengurusi soal halal ini.

Halalkah cokelat ini? Halalkah bakso”Pak Imin” itu? Halalkah sosis itu? Halalkah..? Itulah pertanyaan kritis di negeri ku.

Puasa memang baru besok (ketetapan Pemerintahku), mengapa tak awali persiapan hati, jiwa, dan pikir kita sebelum memulai puasa dengan bertanya halalkah uang yang akan kita gunakan untuk segala macam bahan pangan selama 1 bulan Ramadhan ini? 


Selamat menjalankan revolusi mental di Ramadhan ini!

Sitta Manurung

Rabu, 28 Mei 2014


Secukupnya

Menuliskan ini tidak berarti saya sudah jadi pelaku wahid: Secukupnya! Justru, masih sedang berjalan bersamanya dan terus berdialog dengan secukupnya. Pertanyaan pertama padanya, “apa ukurannya kalau saya sudah melakukan secukupnya?” Formulanya diri sendiri.

Trus kalau diri sendiri, apa batasannya? Lama juga menemukan jawabannya. Contoh sederhana, seperti keperluan garam atau merica. “Secukupnya,” sambungnya. “Betul..betul,” batin saya. Namun, kapan saya tahu itu sudah cukup?

Tubuh. Begitu bisiknya. Ehm..saya jadi teringat, soal slogan 4 sehat 5 sempurna yang sudah direvisi pemerintah menjadi kebutuhan gizi seimbang perindividu, bukan sempurna karena sudah minum susu.

Individu. Wah, kalau sudah begini tidak ada lanjutan lain, selain berhubungan dengan Pencipta, The Creator. Tiap-tiap orang dicipta secara tailormade, tidak massproduct bukan?! Kalau begitu, saya perlu mendengar  (listening bukan hearing) The Creator agar mampu mendengar (listening bukan hearing) tubuh yang adalah saya sendiri.

Kalau sudah begini, fast food tidak akan membawa saya pada tahap ini, judulnya saja fast (cepat), pinsip dan nilainya: Cepat! Padahal untuk listening perlu tenang untuk dapat paham.

Kalau balik ke kebutuhan garam dan merica di atas, saya tidak normal. Soalnya, ketika makan ramai-ramai selalu saja saya menemukan diri ini keasinan sangat, saat yang lain tidak. Kebutuhan garam saya tidak serupa rupanya. Lalu apa perlu saya berpura-pura tidak keasinan, saat semua tidak keasinan?

Menjurus arus memang satu kunci untuk mempraktekan: Secukupnya. Kalau tidak, bisa saja sih melatih diri agar sama dengan arus yang ada. Namun, siap-siap untuk lupa diri. Soalnya, diri yang sebenarnya, oleh Pencipta sudah dicipta kediriannya yang tahu mengukur kecukupan kebutuhan dirinya.

Garam dan merica cuma satu dari banyak kebutuhan secukup lainnya yang perlu di dengar agar tidak salah ukuran saat memenuhinya. Taruhannya hidup! 

Dan, hidup itu sesungguhnya milik Sang Pencipta, jadi diri ini seharusnya hanya melakukan kehendak Pencipta agar diri menuju kesempurnaan bentuk dan sehat sesuai kehendak pemiliknya, yaitu Sang Pencipta. Jadi, kalau pun sakit atau jatuh sakit, kegendutan atau kekurusan, miskin atau kaya, pintar atau tidak, kerja dan santai, semua terjadi bukan karena kitaa melanggar ukuran secukupnya kita.

Secukupnya sedang menjurus arus, hukum menindas pun menemui ajalnya!

 

Sitta Manurung

Selasa, 29 April 2014

Atur Ulang Dapur Anda





Suatu pagi, 10 hari sebelum November digantikan Desember, saat sekotak susu cokelat hasil pasteurisasi menemani sarapan saya. Mata ini bersirobok dengan sebuah judul artikel di koran Tempo (20 November 2013). Kerongkongan yang sudah basah seolah sekilat menguap dan sedikit ketegangan terjadi. Bagaimana tidak, membaca judulnya saja saya sudah terprovokasi: “Tempat Paling Jorok Di Dunia”.
Yang lebih membuat kaget, setelah membaca lebih lanjut,ternyata tempat yang paling jorok itu justru ada di dalam rumah kita. Begini kata Profesor John Oxford dalam artikel itu, “Justru rumah adalah tempat termudah untuk terpapar penyakit infeksi.” Pria 71 tahun yang adalah Profesor bidang virologi (ilmu tentang virus) dari St. Bartholomew’s and the Royal London Hospital serta Queen Mary’s School of Medicine and Dentistry, Inggris, itu pun melanjutkan,bahwa sumber infeksi ada di dapur, bukan toilet.
Kok, bisa?” tanya saya dalam hati.
Ternyata, Oxford telah menggelar survei tingkat dunia di 18 negara dengan 18.162 responden, termasuk Indonesia.
Hasilnya menyimpulkan, dapur tidak mendapat perhatian yang sama dengan toilet untuk urusan kebersihan. Dibandingkan toilet, dapur lebih jarang dibersihkan.
Saya jadi teringat akan film serial TV kabel berjudul A Gifted Man, yang berkisah tentang seorang dokter ahli saraf otak. Salah satu episodenya bercerita, bagaimana kebocoran gas di dalam rumah bisa membuat penghuninya mengalami delusi, karena saraf otaknya telah diracuni bakteri akibat tidak bersihnya lingkungan rumah.
Tak terbantahkan, refleksi pun terjadi pada pagi itu. Saya tidak ingin sendiri, wake up call ini semoga bisa menjadi sharing yang berujung pada tindakan untuk mengatur ulang dapur kita. Yuk,  kita intip lagi, apa saja, sih, isi dapur Anda dan saya.
Bayangkan, kalau tidak dibersihkan, bisa-bisa bahan-bahan makanan atau bumbu-bumbu yang sudah kadaluwarsa masih menjadi penghuni setia di dapur. 
Kalau sudah begini kuman makin dekat dengan  anggota keluarga, bukan?


Sitta Manurung

Jumat, 28 Maret 2014

Secangkir Jawa



Sesungguhnya istilah ini sudah jadul. Sudah mengglobal sejak abad 17, merupakan sebutan orang-orang Eropa buat kopi Indonesia (waktu itu kopi pertama dibawa Belanda dari Malabar ke Batavia, tepatnya ke Pondok Kopi, Jatinegara Timur) saking enaknya.

Secangkir Jawa mencuat ke benak ini, dalam rangka Food For Thought,  Indonesia MDG Awards 2013 Youth Forum 15 Maret lalu di Ballroom Djakarta Theater, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat.
Masihkan wajah kopi kita secangkir jawa? Yang pasti kopi dari Jawa memang salah satu kopi Indonesia. Namun, ada juga kopi Flores, kopi Kintamani Bali, kopi Gayo Aceh, kopi Lintong, dan kopi Sidikalang Sumatera Utara. Dengan kata lain, keragaman adalah wajah Indonesia.
Tak salah dong kalau kopi merupakan identitas Indonesia? Identitas Indonesia itu bukan kopi tapi kopi luwak. Kopi luwak (bukan saja karena pakai kata luwak yang artinya musang) itupertama kali ditemukan oleh pekerja perkebunan (orang Indonesia) di perkebunan kopi Belanda di tanah Indonesia.
Saking mahalnya harga secangkir kopi (akibat konstruksi sosial bangsa Eropa, salah satu pelakunya: Raja Frederick Agung dari Rusia) orang miskin gak mampulah beli wong daya belinya gak nyampe. Para pekerja perkebunan tentu saja tergoda mencicipinya, nah tak sengaja mereka menemukan kotoran musang berupa biji kopi utuh. Inilah cikal bakal kopi luwak yang kesohor itu, yang bahkan menginspirasi Rob Reiner membuat The Bucket List, film yang dibintangi Jack Nicolshon dan Morgan Freeman aktor gaek Hollywood.
Dunia memang mengakui kopi dari Indonesia punya kualitas jempolan (penghasil kopi ke tiga di dunia) setelah disalip oleh Vietnam (menduduki peringkat kedua). Tapi apakah kebanyakan rakyat Indonesia juga tahu bahwa kopi mereka paling enak di dunia? Bisa jadi lebih beruntung pekerja perkebunan kopi di abad 17 itu, sekarang kopi luwak yang diminum kebanyakan rakyat adalah kopi luwak instan seharga Rp.1000 – Rp. 1500, udah gitu tidak ada SNI pula. Sementara kopi luwak kualitas bagus, harganya secangkir di atas Rp.100.000. Sementara itu, di Jawa Barat menurut AEKI (Asosiaso Eksportir Kopi Indonesia) masih ada pemilik kebun kobi di Indonesia yang penghasilannya dibawah UMR perbulan.
Lagi-lagi Indonesia memberi asupan pangan kualitas buruk buat rakyatnya. Secangkir Jawa rasanya jauh panggang dari api.  Haruskan selalu begini, setelah sekolah di luar negeri atau pas punya kesempatan pergi ke negeri orang baru tahu ada kopi enak selain kopi instan seribu perakan? Di Vietnam saja di kedai-kedai kopi di pasar dijual kopi buatan dalam negeri yang digoreng dan ditumbuk sendiri dalam grade (tingkatan kualitas), jadi rakyatnya bisa punya pengetahuan dan pengalaman minum kopi enak dan tidak enak.
Bukankah seharusnya kopi bisa diakses oleh semua rakyat? Daya beli masyarakat yang rendah rasanya tidak layak terus menerus dijadikan jawaban. Lalu, apa artinya ada perubahan penggunaan istilah ketahanan pangan menjadi kedaulatan pangan dalam undang-undang pangan no 18 tahun 2012? Rasanya belum pantas Negara dan pemerintah Indonesia bangga dan bertepuk dada akan posisi Indonesia sebagai penghasil kopi ketiga di dunia. Vietnam yang baru merdeka 1975 sudah bisa menyalip Indonesia yang punya luas kebun kopinya tak sebanding Vietnam sejak abad 17. 

Sitta Manurung