Selasa, 28 Oktober 2014

Kerja, Kerja, Kerja!





Alkisah, Firaun pun segera menunjuk mantan narapidana dan memberi wewenang luas agar ketersediaan pangan terjamin di Mesir, sebelum masa paceklik tiba. Yusuf pun segera bekerja!

Running text di layar kaca swasta, Metro TV, hari Rabu, 16 September 2014 lalu, bergerak dengan kecepatan konstan tanpa jeda, mata ini pun membaca sebuah kalimat, begini tertulis: PBB: 800 juta jiwa kelaparan di dunia.

Sehari sebelumnya, 15 September 2014, Joko Widodo, Presiden terpilih Indonesia  bersama wakilnya, Jusuf Kalla dan tim transisi mereka, mengumumkan di layar kaca, 34 kursi kabinetnya, diantaranya, beliau juga bicara soal prioritas pencapaian kedaulatan pangan.

Sementara itu, sekarang sudah 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Saya pun masih kegerahan terus belakangan ini, mulai dari September tengah lalu sampai sekarang masih musim kemarau. BMKG Indonesia memang sudah mengeluarkan ramalan bahwa puncak kemarau itu bulan Oktober tahun ini. Tak heran, saya kepanasan, bayangkan pernah mencapai 42 derajat celcius! Tanah pun pada kering, petani tentu bersusah hati…

Siang nan terik itu, buku Mustika Rasa terbitan Djakarta 1967, jadi santapan kedua sesudah makan siang. Menarik! Pada halaman romawi IV, tertulis Sambutan  Mentri Koordinator Pertanian dan Agraria, diantaranya dapat dibaca, … Seminar Gizi jang diadakan pada bulan Mei 1964, telah menentukan menu pedoman untuk karbohidrat seorang setahun sebagai berikut:
Beras                 82.1 kg
Djagung            45,6 kg (equivalent beras)
Umbi-umbian 18.3 kg (equivalent beras)
-----------------------------+
           146,0 kg
produksi bahan makanan harus disesuaikan dengan pedoman menu rakjat diatas.

Alinea berikutnya,  dapat dibaca:
Untuk tahun 1965 direntjanakan produksi sebagai berikut:
Padi:           20,50 djuta ton
Djagung:     6,40 djuta ton (pipilan)
Umbi2an: 15,00 djuta ton (umbi basah)

Sekarang? Adakah yang tahu berapa kebutuhan karbohidrat seorang setahun di negeri tanpa telinga –- meminjam judul film sutradara, Lola Amaria -- ini? Dan, berapakah ton padi, jagung pipilan, dan umbi-umbian basah yang perlu dicapai untuk memenuhi mulut-mulut anak negeri yang masih banyak makan nasi aking ini?

Alkisah, Firaun pun bermimpi. Dalam mimpi itu, ia sedang berdiri di tepi Sungai Nil. Tiba-tiba muncullah tujuh sapi gemuk dari dalam sungai dan memakan rumput yang ada di tepi sungai Nil. Lalu, muncul tujuh sapi kurus dan memakan sapi-sapi gemuk itu. Firaun kembali bermimpi. Kali ini, Raja Mesir itu dalam mimpinya melihat tujuh bulir gandum yang kering menelan tujuh bulir gandum yang berisi.
Orang pintar istana pun dikerahkan, untuk menafsirkan mimpi Raja. Namun, tak satu orang pintar istana mampu menafsirkannya. Firaun pun galau. Tak kebetulan, seorang pegawai istana teringat akan Yusuf, seorang tahanan yang piawi menafsirkan mimpi. Atas perintah Raja, Yusuf pun dikeluarkan dari jeruji besi.
Di hadapan Firaun, Yusuf mengatakan bahwa Allah sedang memberi tanda, apa yang akan terjadi di tanah Mesir dalam waktu dekat ini. Ungkap Yusuf, “ tujuh sapi gemuk dan tujuh bulir gandum yang berisi melambangkan tujuh tahun masa kemakmuran di Mesir. Tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum kurus melambangkan tujuh tahun masa paceklik, setelah masa kemakmuran.” Yusuf  pun menawarkan jalan keluar kepada Raja untuk memilih seorang yang cerdas dan bijaksana untuk mengatasi masa itu.  Selanjutnya, Firaun menunjuk Yusuf dan memberi wewenang luas atas Mesir agar ketersediaan pangan tetap terjamin di Mesir.
Mendesak dibutuhkan seorang mentri pangan yang bijak dan cerdas di Indonesia!  Berita koran terakhir, setelah terbentuknya Kabinet Kerja, diputuskan Indonesia di masa pemerintahan Jokowi-JK ini adalah Mentri Pertanian. Pak Mentri ini menurut info di koran, akan fokus pada padi, jagung, dan kedelai.


Adalah artikel karya Yonki Karman yang berjudul: Politik Pangan Yusuf,  yang sudah menjejak beberapa tahun lalu, sebab cerita Firaun saya kutipkan kembali, di sini.  Bukankah hari pangan juga baru saja berlalu (16 Oktober)?
Menengok ke belakang sebentar, di Rumah Transisi yang dibentuk Jokowi-JK pun banyak sudah lamaran menjadi mentri mendarat. Padahal tidak ada iklan lowongan kerja untuk itu di koran-koran. Koran Tempo, salah satu koran di tanah air, misalnya, tanggal 4 September  lalu hanya mewartakan artikel berjudul: Alternatif 34 Kursi! Salah satu kursi yang tertera di situ, kursi Kementrian Kedaulatan Pangan.

Tentu, sebuah keniscayaan, Jokowi memilih orang seperti Yusuf di bumi Pertiwi ini.  Yusuf, seorang pemuda biasa bukan dari kalangan istana. Ia bahkan pernah menjadi seorang narapidana yang dipenjara karena kekuatan penguasa (Potifar), padahali tak didapati kesalahan apapun pada Yusuf kala itu. Ia juga tak punya relasi dengan penguasa di Mesir. Bukankah Yusuf itu seorang budak, ketika tiba di Mesir? Namun, dipastikan orang yang mengenal Yusuf akan menyukainya karena karakternya yang elok. Pemuda usia 30 tahunan itu intregritasnya solid, tak bermental pedagang pula. Seorang yang taat dan takut kepada perintah Allahnya.
Pada akhirnya, Firaun memberi wewenang seluasnya atas tanah Mesir kepada Yusuf. Segera, Yusuf pun kerja, kerja, kerja. Yusuf pun membuat kebijakan untuk 7 tahun sebelum masa kelaparan datang. Ia memerintahkan pegawai-pegawai istana mengumpulkan seperlima dari kelebihan panen gandum rakyat untuk memperkuat stok pangan nasional. Sejarah pun mencatat, Mesir terbebas dari bencana kelaparan.
Empat hari sesudah hari pangan sedunia itu, Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla dilantik secara resmi menjadi orang nomor satu dan orang nomor dua di Indonesia. Selamat berkarya Bapak-Bapak. Semoga karya untuk kedaulatan pangan Indonesia apa pun bentuknya tidak diselenggarakan dengan mental pedagang ya Pak dan Bu Mentri terpilih!

Sitta Manurung (Penulis)
Editing ulang 28102014
Pertama publish 16102014: www.rasamasa.com