Jumat, 06 Februari 2015

Sehat Itu (Harusnya) Murah

Seharusnya memang sehat itu murah. Bukankah soal sehat tidaknya Anda dimulai dari apa dan bagaimana gaya hidup Anda sehari-hari?


Suatu sore, pada hari Minggu bulan Oktober lalu, saya mendapat undangan dari sebuah gereja dekat rumah, perihal: Menghadiri pertemuan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Mantap! PHBS masuk ke gereja. 


Apa sih PHBS?  PHBS itu, singkatan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. PHBS memiliki 10 indikator nasional, yaitu: Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, Memberi bayi ASI Eksklusif, Menimbang balita setiap bulan, Menggunakan Air Bersih, Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, Menggunakan jamban sehat, Memberantas jentik di rumah, Makan sayur dan buah setiap hari, Melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan Tidak merokok di dalam rumah. Sudahkah Anda di posisi ini?

Saya jadi teringat situasi sekarang, wabah demam berdarah kembali menyerang! Tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Beberapa daerah di Indonesia saat ini juga sudah mengumumkan daerahnya bahaya demam berdarah (DBD) dengan status KLB (Kejadian Luar Biasa). Masuknya PHBS ke gereja, bisa menjadi langkah kecil yang menunjukkan gotong royong kesehatan. Tindakan preventif seyogyanya memang.


Pada kesempatan lain, saya punya pengalaman menarik, masih soal kesehatan. Hanya saja yang ini soal kartu BPJS. Apalagi sampai seumur ini saya tak pernah dibantu oleh negara soal kesehatan. Selalu saja, semua keluar dari kocek sendiri. Saya ingin merasakan nikmatnya menjadi warga negara Indonesia. Memang saya begitu antusias terhadap program negara yang satu ini. Saking antusiasnya, saya mewajibkan diri mendukung niat baik negara dan pemerintah ini, meski kepercayaan saya sebagai anak kandung Ibu Pertiwi seringkali tergores dan acapkali harus mengobati luka itu sendiri.


Kartu BPJS sudah ditangan, tapi ketika berangkat ke puskesmas, mengapa banyak tanya berkecamuk di kepala, “apakah obatnya akan paten?”,  “gimana ya nanti dokternya mendiagnosa?”, “gimana ya pelayanannya, masih uang kah magnitude-nya?” Langkah saya tak surut. Saya sudah memupuk kepercayaan ini, menyerah tentu pantang. Belajar percaya tentu lebih baik karena ada harapan di dalamnya. Pada akhirnya, saya pun masuk ke ruang praktek dokter berseragam cokelat-cokelat itu. Dengan percaya penuh saya serahkan diri di tangan dokter perempuan itu. Bukankah awal sebuah kesembuhan diawali dengan adanya percaya?


Pada akhirnya, fakta membuktikan, sakit saya sembuh. Sejak kejadian itu, saya makin keranjingan gunakan BPJS. Memang agak sedikit ribet sebagai pemula, lebih karena sudah terbiasa dengan kemudahan pelayanan kesehatan swasta. Perubahan perilaku itulah yang saya sebut sedikit ribet itu, tidak lebih. Misalnya, saya jadi paham untuk dating diperiksa ke puskesmas kecamatan agar sekaligus bisa memberi rujukan jika dibutuhkan. Mirip pelayanan asuransi kesehatan, hanya ini ditanggung negara. Perasaan bangga dan menjadi anak negeri bisa saya miliki berkat BPJS, sebelumnya tak pernah, sebelumnya kesehatan itu berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.


Bisa jadi, karena berdikari itu pula gaya hidup preventif saya lakoni dibandingkan gaya hidup kuratif. Memang mengutamakan upaya promotif-preventif dalam pembangunan kesehatan agar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS benar-benar diterapkan setiap waktu dan sepanjang hayat oleh seluruh masyarakat Indonesia. Meski BPJS di tangan, tidak berarti saya jadi suka-sukanya ke dokter, tetap saja hobi jalan kaki dilakoni. Bukankah dengan rutin jalan kaki kadar kolesterol bisa dikontrol?


 Sitta Manurung (Penulis)

x